Opini — NTT Online 10/5/2008

Senior SPMNJ Primus Dorimulu: Tanpa Berpikir Besar, Kita Tak Pernah Bisa Menjadi Orang Hebat

primus dorimulu2 “Semua perubahan mulai dari berpikir besar. Tanpa pernah berpikir besar, kita tidak pernah bisa menjadi orang hebat.” Demikian salah satu butir pemikiran Pemred Investor Daily Primus Dorimulu saat memberi sambutan pada acara Deklarasi SPMNJ (Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo-Jakarta), 19 April 2008 lalu.

Primus yakin, para pemuda dan mahasiswa Nagekeo, baik yang berada di Jakarta maupun di Flores, dan di berbagai pelosok Nusantara, bisa menjadi orang hebat di masing-masing arena kegiatan yang digeluti jika berani berpikir besar. Sebagai kabupaten baru, Nagekeo membutuhkan generasi baru yang hebat di bidangnya. “Sebagai putra Nagekeo di perantauan, kita harus bertekad untuk menjadi orang hebat. Kalau pun pulang kampung, kita pun harus menjadi orang hebat,” kata Primus yang saat ini juga dipercayakan menjadi pemimpin redaksi Harian Umum Suara Pembaruan.

Salah satu ciri orang hebat, kata Primus, adalah sikap tidak mempersalahkan pihak lain. Dalam segala hal, kita tidak boleh mempersalahkan orang lain dan keadaan. Karena yang menjadi aktor dan yang paling bertanggung jawab atas diri kita adalah kita sendiri. Pihak lain hanya membantu.

“Saya melihat sendiri beberapa anak muda Flores yang merasa bangga karena sudah bisa mempersalahkan dan menghina seniornya di Jakarta yang sudah sukses. Mereka bertanya, mengapa para senior itu tidak membantu mereka, misalnya memberikan akses, agar mereka bisa melanjutkan studi dan bekerja. Itu sikap tidak baik,” papar Primus.

Mempersalahkan orang lain membuat kita tidak bisa melihat persoalan dengan jernih, lari dari tanggung jawab, dan kerdil. Sikap mempersalahkan orang lain menunjukkan bahwa kita tidak mampu menerima diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Orang tua kita yang miskin, misalnya, tidak menjadi alasan kita untuk tidak bisa menjadi orang hebat. Lebih celaka lagi kalau kita justru mempersalahkan mereka. Begitu banyak contoh di dunia, bagaimana seseorang dari keluarga miskin mampu meraih prestasi tinggi di bidangnya. Sejumlah orang Flores juga mampu mengukir prestasi tinggi meski berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi.

Tidak ada gunanya kita mempersalahkan alam. Keadaan alam yang gersang akibat kurang curah hujan tidak menjadi alasan kita untuk gagal panen dan menjadi miskin. Orang Israel mampu mengubah gurun menjadi perkebunan subur karena respons mereka yang positif. Mereka tidak persalahkan alam yang gersang akibat rendahnya curah hujan. Orang Israel meresepons rendahnya curah hujan dan tanah gersang dengan memperbanyak air dan menggunakan teknologi pertanian secara maksimal.

Iklim dan topografi sebagian Australia sama dengan Flores. Tapi, Negeri Kanguru itu maju pesat, rakyatnya hidup sejahtera. Mereka membangun waduk dan dam. Pada musum hujan, air ditampung di waduk, sehingga pada saat kemarau panjang, tanaman tetap hijau dan ternak tidak kesulitan air minum dan pakan.

Yang kerap kita anggap masalah sesungguhnya bukan masalah. Yang justru menjadi masalah adalah cara dan kualitas kita merespons masalah. Jika kita salah merespons, sesuatu yang bukan masalah bisa menjadi masalah. Sebaliknya, bila kita mampu merespons dengan benar, sesuatu yang sebelumnya masalah bisa menjadi tidak masalah.

Kalau kita kurang cerdas, kita harus menyediakan waktu belajar lebih banyak dari mereka yang cerdas. Kalau mereka yang cerdas cukup butuh waktu dua jam sehari belajar, kita mungkin perlu waktu tiga atau empat jam. Inilah cara merespons yang bagus.

Sebagai mahasiswa dan pemuda, demikian Primus, kita harus belajar menghargai orang lain dan senang melihat orang lain berhasil. Kalau ada kecemburuan, salurkan sikap itu dengan belajar lebih rajin, bekerja lebih keras. Bukan dengan menjelek-jelekkan orang lain. Ibarat balap mobil, kalau orang yang kita cerburui berlari dengan kecepatan 150 km per jam, kita pacu 160 km per jam.

“Yang lebih berbahaya lagi adalah praktik zero sum game. To kill or to be killed. Saking bencinya kita pada orang, kita bertarung habis-habisan: negative sum game alias bumi hangus. Ini tidak boleh menjadi sikap SPMNJ. Mengapa tidak kita bangun sikap positive sum game? Mengapa kita tidak saling menguatkan, papa sike, too jogho?” ungkap Primus.

Primus mengajak pemuda dan mahasiswa Nagekeo untuk menghargai semua senior asal NTT yang sudah mengharumkan nama NTT di gelanggang nasional. Dari Flores ada nama besar seperti mantan Menkeu Frans Seda, mantan politisi almarhum Ben Mangreng Say, mantan Gubernur NTT dr Ben Mboy, mantan Menaker Jacob Nuwa Wea, ahli bahasa Indonesia almarhum Gorys Keraf, filosof dan sosiolog Dr Ignas Kleden, mantan Menteri Lingkungan Hidup Dr Sonny Keraf, Rektor Universitas Trisakti Prof. Dr Thoby Mutis, pengusaha Johny Plate dan Herman Herry, dan banyak lagi.

Mereka semua hebat di bidangnya karena mereka berpikir besar, bekerja cerdas dengan motivasi tinggi. Tentu ada faktor lucky. Tapi, yang pasti, mereka mampu merespons dengan tepat masalah yang dihadapi dan memanfaatkan dengan baik semua kesempatan yang ditemui.

Mengutip mantan presenter jempolan, Ebet Kadarusman, Primus yang didaulatkan sebagai senior SPMNJ mengatakan, “Lebih baik menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik”. Dengan ungkapan ini, Kang Ebed mengimbau semua audiensnya untuk menjadi orang baik. Tidak menghalalkan segala cara untuk menjadi orang penting. Idealnya, kita bisa menjadi orang penting dan sekaligus menjadi orang baik. Kita harus punya tekad menuju sana.

Jim Collins dalam bukunya “Good to Great’ mengatakan, “Baik saja tidak cukup. Perusahaan harus berusaha menjadi hebat di bidangnya. Baik adalah musuh hebat.” Hasil risetnya menunjukkan, perusahaan yang hanya mencapai predikat baik saja, tidak bisa lama bertahan, market share atau pangsa pasarnya akan diambil kompetitor yang agresif dan kreatif. Perusahaan seperti itu tidak berusaha untuk inovatif dan menjadi market leader di bidangnya.

‘Baik’ yang dimaksudkan Jim Collins adalah predikat atau skala penilaian. Bukan baik dalam arti berkarakter bagus, bermoral, atau berintegritas. Sebagai manusia, kata Primus, kita harus berusaha terlebih dahulu menjadi orang baik dalam arti berintegritas. Dengan modal integritas baik, kita berusaha meraih prestasi tinggi dan menjadi orang hebat.

Berbagai pengalaman empirik menunjukkan, orang tidak bisa menjadi hebat jika tidak terlebih dahulu menjadi orang baik. Karena hanya dengan menjadi orang baik terlebih dahulu, semua talenta yang dimiliki bisa dioptimalkan. Hanya dengan karakter yang baik, kita bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk menjadi orang hebat.

Primus menekankan pentingnya perbaikan ‘mindset’. Orang Flores sering gagal karena belum apa-apa sudah mengatakan tidak bisa. Kata ‘talo’ (=tidak bisa) adalah kosa kata yang sering diucapkan orang Nagekeo saat diajak untuk membangun sesuatu yang hebat. Jika berpikir saja kita sudah bilang ‘talo’, bagaimana kita bisa berprestasi?

“Ingat, apa kata Rene Descartes: Cogito ergo sum. I think threfore I exist. Saya berpikir maka saya ada. Ya, semuanya berawal dari berpikir. Saya berpikir saya bisa menjadi orang sukses, maka saya menjadi orang sukses. Oleh karena itu, wahai para pemuda dan mahasiswa Nagekeo, buanglah, buanglah, buanglah kata ‘talo’. Coret kata itu dari kosa kata sehari-hari,” ujar Primus berapi-api.

Para ahli bilang, demikian Primus, we do, what we think. Kita berbuat apa yang kita pikirkan. Itulah actus humanus, perbuatan manusia sebagai manusia. Manusia mengerjakan apa yang dipikirkan, apa yang direncanakan. Apa yang ada dalam pikiran kita sangat menentukan tindakan kita. Jadi, kalau kita selalu berpikir kalah, maka kita akan selalu menjadi the loser. Sebaliknya, kalau kita selalu berpikir menang, cepat atau lambat, kita akan menjadi the winner.

Tapi, pikiran bukanlah yang paling tinggi dalam diri manusia. Di atas pikiran, ada sesuatu yang sangat mempengaruhi. Itulah belief, itulah iman, itulah keyakinan. Orang bisa membawa bom bunuh diri dan rela mati karena belief-nya. Orang rela menyerahkan sebagian hartanya untuk orang lain karena belief. Anak berandal bisa meninggalkan kehidupan hitamnya karena pikirannya sudah tersentuh belief. Karena itu, untuk memotivasi orang yang malas belajar dan malas bekerja, sentuhlah pikirannya dengan belief. “What we believe shape the way what we live. Apa yang kita yakini, mempengaruhi cara hidup kita,” kata Primus.

primus dorimulu

Primus yang saat ini menjadi News Director di Globe Media Group, Jakarta, yakin pemuda dan mahasiswa Nagekeo mampu membentuk dirinya menjadi orang hebat, asalkan mulai dengan berpikir besar, bekerja dengan penuh motivasi, menerapkan key of success, dan berpedoman pada belief. Ia lantas menguraikan delapan pilar yang menjadi kunci sukses seseorang.

Pilar pertama adalah solid character. Banyak orang pintar gagal meraih karir yang baik, bahkan gagal dalam hidup karena tidak memiliki karakter baik. Mereka gagal karena, mungkin, tidak sabar, tidak sopan, tidak memiliki tekad yang kuat, dsb.

Sukses tidak saja ditentukan oleh hard skill, tapi juga soft skill. Bahkan 80% sukses seseorang ditentukan oleh soft skill. Yang disebut hard skill adalah knowledge (pengetahuan) dan professional skill (kemampuan profesi). Sedangkan soft skill meliputi motivation, attitude, behavior, net working, positive thinking, dan good response. Sopan santun, kesabaran, kejujuran, keberanian, daya tahan dan daya juang, kemampuan bergaul dan memperluas net working adalah bagian dari soft skill.

Pilar kedua, healthy physic. Tanpa fisik yang sehat, kita tidak bisa belajar, bekerja, bergaul, dan menikmati hidup. Kesehatan adalah harta kita yang tidak ternilai. Kita harus mengkonsumsi makanan bergizi, olah raga dan tidur cukup. Ini semua tidak bisa disubstitusi. Orang lain tidak bisa makan, olah raga, dan tidur buat diri kita. Kerusakan fisik menggerogoti, bahkan menghancurkan semua yang kita peroleh bertahun-tahun.

Pilar ketiga, significant spiritual. Orang yang hidup tanpa landasan spiritual yang signifikan bagaikan rumah yang dibangun di atas pasir. Bangunlah rumah di atas batu cadas. Hiduplah atas dasar iman dan libatkan Tuhan dalam setiap aktivitas kita. Kita senantiasa perlu menyadari bahwa kita berasal dari Dia dan akan kembali ke Dia. Kita wajib mengajak orang lain untuk semakin dekat dengan Tuhan. Bukan sebaliknya, yakni menjauhkan orang lain dari Tuhan.

Seperti sudah dijelaskan, spiritualitas mempengaruhi mindset manusia dan cara hidup seseorang. Jika kita menghendaki agar kita selalu berada di jalan Tuhan, hiduplah sesuai firman-Nya.

Resep hidup ini akan sangat membantu: Apa yang kaukehendaki orang lain lakukan kepadamu, perbuatlah hal itu kepada orang lain, dan apa yang tidak kaukehendaki orang lain perbuat kepadamu, janganlah kau perbuat kepada orang lain.

Pilar keempat adalah life learning. Orang Flores sangat terkenal tukang ngobrol. Tidak salah dengan ngobrol. Tanpa chating hidup jadi kering. Namun, kebanyakan ngobrol, bukan saja waste time, tapi juga menganggu orang lain. Waktu dan usia tidak bisa didaur ulang. Sekali lewat, waktu tidak bisa kita kembalikan. Kita juga tidak bisa mengembalikan usia. Semakin hari kita semakin tua. Karena itu, gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan bekerja. Gunakan waktu senggang untuk membaca buku, menghadiri seminar, dan diskusi bermutu. Bukalah wawasan dengan belajar, terutama dari orang sukses.

Pilar kelima, active network. Banyak teman, banyak rezeki. Tidak salah kalau orang bilang, “Siapa yang kau kenal menentukan di mana kau berada.” Banyak orang berhasil memperoleh pekerjaan dan kedudukan karena networking. Para pebisnis sukses karena luasnya jaringan. Karena itu, perbanyaklah kenalan dan teman. Setiap kali bertemu orang, mintalah nama dan alamat serta nomor kontak. Apakah hari ini sudah lebih dari 100 nama dan nomor kontak di hand phone Anda?

Pilar keenam adalah bright career. Hidup harus bekerja. Bekerja bukan saja soal upaya mendapatkan nafkah, tapi juga soal kepercayaan diri dan self esteem. Orang yang tidak bekerja tidak saja kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perlahan namun pasti, kepercayaan dirinya tergerus. Bekerja sangat penting agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain.

Sambil kuliah pun orang bisa bekerja. Ya, bekerja apa saja, meski pekerjaan kasar. Anda bisa bekerja sambil kuliah. Ada banyak pekerjaan yang cocok buat mahasiswa, selanjutnya tinggal kemauan dan disiplin.

Pilar ketujuh, healthy finance. Uang adalah darah. Tanpa uang aktivitas kita lumpuh. Sejak mahasiswa, kita harus belajar mengelola uang dengan baik. Bergaya hidup sesuai kemampuan agar tidak besar pasak dari tiang.

Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, tapi begitu pensiun atau pun dicopot dari jabatan langsung jatuh miskin. Ini pasti gara-gara life style yang besar pasak dari tiang.

Kalau sudah bekerja, upayakan pengeluaran di bawah pendapatan, makin lama makin besar. Dana itu ditabung atau diakumulasikan dari bulan ke bulan. Setelah jumlahnya cukup untuk biaya kesehatan, pendidikan, dan hari tua, mulailah berinvestasi. Banyak orang yang pintar cari duit, tapi tidak smart mengatur uang.

Pilar kedelapan, lovely family. Keluarga adalah jangkar. Ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita bekerja, kita toh kembali juga ke rumah, kembali ke keluraga. Jika keluarga tidak harmonis, karakter kita akan terganggu, dan itu akan berdampak besar terhadap pekerjaan. Keluarga adalah oasis, tempat kita menimba kekuatan, kesegaran, dan daya hidup. Orang yang tidak memiliki lovely family sulit bekerja dengan konsentrasi tinggi, sulit tersenyum, sulit membagiakan dan memaaftkan orang lain.

Kita belajar dan bekerja keras, semuanya untuk kebahagiaan keluarga. Kita tidak mungkin bisa membahagiakan masyarakat kalau kita tidak bisa membahagiakan keluarga. Keluarga adalah unit masyarakat terkecil. Kalau keluarga beres, negara beres. Siapa saja boleh saja bercita-cita menjadi pemimpin. Tapi, pemimpin masyarakat haruslah mereka yang memiliki lovely family, mereka yang sudah terbukti sukses memimpin keluarga.

Inilah key of success yang sudah mengubah begitu banyak orang di dunia. Mereka sudah berhasil menjadi orang hebat di bidangnya.

“Anda pun bisa menjadi orang hebat asalkan sungguh-sungguh berpikir besar, bercita-cita besar, bermimpi besar, serta memiliki strong motivation, tekad membara, yang tidak lekang oleh panas, lapuk oleh hujan, dan berusaha hidup sesuai belief kita. Anda bisa menjadi orang hebat kalau Anda mau berubah,” ujar Primus membangkitkan semangat. Hans Obor