Sejarah Yang Membentang Nagekeo dan Sikka
Sisipan Untuk Oscar Meta Pipi
Oleh Alexander Yopi Susanto
|
|
Tidaklah mengejutkan menghubungkan Nagekeo dan Sikka. Sesungguhnya, sejarah telah menghubungkan dua kabupaten ini. Bukan cuma wilayahnya yang bertautan di seberang Pantura. Yang strategis untuk muncul sebagai dua kekuatan besar di daratan Flores. Tetapi juga soal karakter pemimpinnya. Pada sudut sanubari rakyatnya. Jelang Pilkada Nagekeo. |
Sejarah para tokoh
Tahun 1960-an, Flores memperoleh ancaman serius dari Seso Badjo Bima yang berkedudukan di Manggarai. Ancaman ini tidak sekedar mengganggu kenyamanan, tetapi juga membuat sebagian orang gusar. Keras kepala. Memberontak. Kecuali Manggarai, daerah Flores lainnya, terlebih Ngada (Nagekeo), Ende, dan Sikka, membarikade dirinya untuk membentengi ekspansi Bima.
Tersebutlah nama Kota Djogo, terletak di dekat Toto Lambo sebelah barat teluk Tjinde, Kinde atau Sinde, di Teluk Kaburea. Kota Djogo menjadi begitu mencuat karena perannya sebagai benteng pertahanan terhadap serbuan ekspansi Bima. Di sini pulalah, pemimpin-pemimpin Nagekeo dan Sikka bahu membahu melakukan perlawanan gigih terhadap Seso Badjo Bima.
Hubungan yang erat itu pula ditunjukkan dengan “jalur bebas” orang Sikka dan orang Nagekeo. Bahwa antara Sikka dan Nagekeo, tidak ada perbatasan yang memisahkan. Keduanya seperti saudara sekandung, yang membiarkan bebas wilayah-wilayahnya itu terikat hubungan pulang pergi, kawin mawin, dan cenderamata pemberian nama.
Tentang nama Maumere, sekalipun masih dalam perdebatan begitu lekat dengan nama wilayah-wilayah di Nagekeo. Maukeli, Maumbawa, Mauponggo, Maunori, yang semuanya menunjukkan sebuah daerah pantai sebagai wilayah stategisnya. Maumere atau “pantai besar” itu menjadi pelabuhan penting, sekurang-kurangnya sejak penjajahan Belanda. Menjadi salah satu pusat transportasi laut dan bongkar prajurit yang diandalkan di daratan Flores. Karena itu, Maumere adalah “pantai besar”.
Sebaliknya, sebuah puisi indah tentang Nagekeo pernah dibukukan dalam sejarah tulis orang Sikka. Gera le Keo//Nia gita Tonggo Keo//Tonggo Keo parak bura//Ganu ladjar wilanda//Bila anda berada di Keo//Terpandang matamu Tonggo Keo//Tonggo Keo wadas putih//seputih layar Belanda// Seolah-olah Nagekeo itu masuk di dalam wilayah Sikka. Sejauh mata memandang di ulu dan eko. Nampak terlihat Sikka dan Nagekeo. Karena itu, Sikka bebas menjejakkan kakinya di wilayah Nagekeo. Menjadi seperti orang Nagekeo. Melawan musuh bersama. Mempertahankan perbatasan. Demikian pun sebaliknya.
Sejarah memberikan karakter. Terlepas dari dominasi genetis. Ingatan akan masa lalu, pelisanan dan pencatatan membentuk sejarahnya sendiri. Sejarah tidak pernah mati. Ia tersimpan baik dalam memori kolektif. Pada alam bawah sadar. Untuk kemudian muncul kembali pada sebuah penemuan. Pada reinkarnasi. Dan di sinilah, sejarah itu membentuk siklus berulang. Dengan tempat, tanggal, waktu, dan orang yang berbeda.
Sejarah Nagekeo dan Sikka adalah sejarah perlawanan. Segi orisinalitasnya terletak pada jiwa pembaru. Sesaat waktu muncul dalam diri orang-orang yang kritis. Bersikap sebagai oposan sejati untuk kalangan birokrat pemerintah. Yang gerah dengan perlakuan tak berpihak pemerintah pada rakyatnya. Tetapi sekaligus mengisi penuh di setiap debar jantung ketidakberuntungan masyarakatnya.
Cinta terhadap tanah airnya tidak serta merta menjadikan liat mukanya selalu bergembira dengan situasi ketertindasan, ketertinggalan, kebodohan, bahkan penjajahan. Ia tidak menari-nari di atas penderitaan rakyat banyak. Selalu punya hati untuk maju. Berwatak keras. Pembawaan tegas. Tidak kompromi. Untuk kebaikan banyak orang.
Tetapi sejarah Nagekeo dan Sikka juga adalah persaudaraan. Identitas pada sebuah nama dan pujian pada syair memberikan warna lain pada karakter orangnya. Untuk orang Flores pada umumnya, nama dan syair tidak datang dengan sendirinya. Ia melekat pada tradisi, budaya, dan masyarakat. Tidak ada syair dan nama tanpa masyarakat. Di luar upacara besar. Pada situs rumah adat dan persetujuan nenek moyang. Pada persaudaraan dan keakraban semua kampung.
Jika demikian, nama menunjukkan hati. Sejauh mana masyarakat menyatakan kesetujuannya pada nama itu. Identitas tidak lantas menjadi hegemoni sebuah pribadi. Berat ringannya, baik buruknya selalu punya persentase di mata masyarakat. Pada memori kolektif. Pada ingatan akan sejarahnya. Terutama sejarah ketertindasan dan munculnya figur pemimpin yang dapat membebaskan. Menumbuhkan persaudaraan. Dengan porsi ketegasan yang tidak kompromi. Pemimpin yang lahir dari masyarakat. Bukan dari luar.
Sejarah, budaya, masyarakat, dan integritas pribadi. Inilah yang menjadi rahim sejarah para tokoh. Seorang Dokter Don, juga seperti Sosimus Mitang dan Wera Damianus, barangkali sudah berada pada jalur yang tepat.
Demokrasi ala Flores
Flores tidak bisa lepas dari budaya dan agama. Keduanya memiliki tradisi dan kontrol sosial. Perangkat nilai dan perilaku. Setiap peristiwa dalam laku hidup orang Flores senantiasa diterjemahkan ke dalam interaksi dua komunitas ini. Termasuk di dalamnya hakikat mengorganisasi sebuah masyarakat. Dengan pilihan pemimpin yang seimbang di kedua sisi.
Kelompok yang lahir dari dua komunitas ini pun terbagi atas dua. Pertama, yang mengusung budaya dan agama sebagai tradisi baku. Cenderung kaku, Mempertahankan kemapanan dengan merengkuh kuat kursi pemimpin adat dan agama.
Kelompok berikut adalah kaum intelektual. Yang lahir dan dibesarkan dalam situasi pertama, tetapi punya keinginan kuat untuk keluar dari jerat itu. Dalam lintasan yang sama itu, kelompok ini lebih kencang larinya. Ibarat lebih dulu mencapai garus finish. Memberikan kritik atas kelambanan, ketertinggalan, kemapanan ritme atas budaya dan agama. Untuk kalangan pertama, mereka nampak seperti benjolan-benjolan pada kulit ari. Nampak bobeng. Tetapi untuk masyarakat, mereka adalah angin segar. Cara pikir lain. Alternatif baru. Pintu perubahan baru.
Demokrasi ala Flores dan tema pencerahan sebenarnya tidak murni urusan politik. Kontrak sosial yang terjadi di lingkup orang Flores lebih kepada kontrak antarsuku, tradisi, budaya, dan agama. Politik hanya mengalihkan perangkat sistem memerintah dari budaya dan agama.
Sementara dari, oleh, dan untuk rakyat itu lebih banyak dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang dimiliki oleh budaya dan agama. Akibatnya, demokrasi Flores melahirkan kasta, kelas, klik. Dengan perseteruan yang melebar pada sejumlah isu fundamentalisme, feodalisme, konservatisme, dan hierarkisme. Tatanan masyarakat dan massa mengambang (floating mass) ditarik pada hierarki ini. Menjadi pendukung dan pengusung pada orang yang dicalonkan.
Namun sejak Pilkada langsung, demokrasi Flores itu mulai bergeser. Berat teguh perpolitikan yang disemangati isu-isu konservatisme dan feodalisme berimbang pada dimensi pencerahan kolektif. Ditandai dengan kesadaran moral pemilih untuk bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri.
Hal ini terutama dipicu oleh kelesuan dan keprihatinan. Bahwa politik sekarang hanya mewaraskan ketertinggalan kelas. Bahwa politik perlu dibangun dari seorang intelektual yang mengabdi. Bahwa politik harus mengusung kursi kesetaraan, kebebasan, persaudaraan untuk setiap kelas. Lebih adil, dengan meninggalkan asumsi-asumsi primodial.
Kesetaraan, kebebasan, persaudaraan, seperti keadaban revolusi Perancis. Inilah yang berhasil mengantar Sosimus Mitang dan Wera Damianus ke kursi panas Sikka. Sementara Dokter Don, dalam lukisan Oscar Meta Pipi adalah seorang yang berada tepat di wilayah pencerahan ini.
Wilayah Pantura
Entah Dokter Don, atau siapa saja yang terpilih nantinya, juga buat Sosimus Mitang dan Wera Damianus wilayah Pantura adalah sebuah tantangan. Pada bentang wilayah ini, yang terlihat cuma bukit-bukit yang tidak terurus, hamparan padang seolah tanpa pemilik, jalan yang rusak, pantai yang tak terusik, dengan bahaya abrasi yang semakin meluas, dan denyut hidup yang belum bergairah. Satu dua rumah, kampung dengan jarak yang jauh terlihat ramai. Selebihnya, Pantura seperti tidak ada kehidupan.
Kalau mau dibilang, Pantura adalah kenangan. Lebih dari itu, adalah keterlupaan dan ketertinggalan.
Bercermin pada sejarah, seharusnya dua Kabupaten ini punya tanggung jawab yang besar atas wilayah ini. Selain Ende. Karena di sini pulalah nama Flores, atau Nusa Nipa itu mendapat pengakuannya. Di sini pulalah, kebesaran nama-nama pemimpin dari kedua kabupaten ini lahir. Para pemimpin itu tahu betul letak unggul wilayah ini. Karena itu, mereka berkorban mati-matian untuk mempertahankan jengkal tanah ini.
Kalau Nagekeo dan Sikka bisa bersikap strategis, bahu membahu dua wilayah ini mutlak dibutuhkan. Kekuatan raksasa Pantura ini sudah seharusnya dimunculkan. Setelah Manggarai pecah menjadi tiga Kabupaten, berikut pergolakan di wilayah Larantuka, Adonara, Lembata, kedua wilayah ini seharusnya sudah mencium momentum yang lahir. Baik Nagekeo maupun Sikka, keduanya sama-sama potensial. Baik dari segi SDM, SDA, suhu perpolitikan, budaya, dan sejarah. Keduanya pantas bersanding untuk menyulap Pantura menjadi Kota Baru. Kota Pantura.
Seperti Seorang Dokter (Don)
Secara medis, seorang dokter berkiprah pada anatomi tubuh manusia. Wilayahnya tidak jauh dari pisau bedah, diagnosis, resep “cakar ayam”, solusi injeksi, penanganan dini, atau lainnya. Tetapi ketika seorang dokter dibutuhkan menjadi seorang pemimpin masyarakat, dengan hormat ia beralih secara sosiologis filosofis. Tetap menggunakan pisau bedah, diagnosis, resep, ia berkiprah pada anatomi masyarakat, menemukan solusi untuk kabupatennya.
Seorang Socrates, Plato, Aristoteles, sampai Kant, Hegel, Whitehead selalu optimis dengan pralambang pisau bedah. Hingga kini pun, gulat pikir para tokoh selalu berkesima dengan kerja pisau bedah. Karena kerja membedah, menganalisis untuk menemukan jawaban adalah kerja paling mulia. Membuat jutaan bahkan miliunan manusia bisa hidup hingga kini. Terus membedah untuk sebuah kemajuan melalui kerja akal, hati, dan roh. Membedah untuk menemukan solusi, diagnosis, resep untuk daur hidup, mempertahankan hidup. Memperoleh kemajuan dari tahap ke tahap.
Nagekeo yang tergolong kabupaten baru praktis butuh pisau bedah. Kerja tata ruang, penguatan identitas budaya, pelestarian sejarah, pengembangan wilayah, ruang hidup masyarakat, potensi SDA dan SDM membutuhkan seseorang yang sudah berpengalaman untuk urusan membedah. Akankah seorang “Dokter” seperti Dokter Don benar-benar mempelopori proses membedah anatomi masyarakat dan pemerintahan Nagekeo? (*)