Perubahan Dimulai dari Pribadi Berintegritas
Tanggapan terhadap profil Dokter Don
Oleh Oscar Meta Pipi
Membaca NTT Online edisi 25 Februari 2008 dan 22 April 2008 yang memuat profil calon bupati Nagekeo dr Johanes Don Bosco Do, Mkes (Dokter Don) menyulut saya berkomentar. Sebagai seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Kupang, membaca profil tersebut ada semacam pencerahan, juga referensi.
Saya tidak kenal dari dekat Dokter Don. Tapi, keluarga saya di kampung,orangtua saya kenal baik Dokter yang satu ini. Dari mereka saya peroleh preferensi tentang sosok dia. Saya yakin, di Kupang, juga di tempat lain hari-hari ini sedang santer membicarakan sukseksi bupati Nagekeo, satu kabupaten baru yang miskin.
Sebagai mahasiswa yang sering merekam perbincangan berbagai kalangan di Kupang, mendengar guncingan, dan pada saat yang hampir bersamaan membaca NTT Online tentang profil dokter Don, jujur, sebuah preferensi baru diperoleh.
Di kalangan terbatas di Kupang, Dokter Don digambarkan sebagai sosok arogan, keras kepala, dan feodal. Tapi, pada saat yang sama, di kalangan yang lebih luas, misalnya komunitas mahasiswa, kelompok-kelompok arisan, akademisi, Dokter Don adalah sosok berintegritas.
Seseorang yang memiliki daya tahan pribadi atau semacam determinasi personal (jaga waka dalam bahasa lokal lape, nataia, dhawe) yang solid sehingga seolah-olah yang muncul ke permukaan adalah arogansi. Untuk dua mainstream pemahaman orang tentang satu sosok Dokter Don, saya sendiri memakluminya.
Pasalnya, batas antara arogansi dan determinasi personal memang tipis. Hal ini terbukti, setidaknya dari rekam jejak Dokter yang saya peroleh dari cerita orangtua saya, juga cerita orang-orang yang benar-benar mengenal sosok ini dari dekat. Selain,tentu saja tulisan NTT Online.
Jika NTT Online mau dikritik, saya justru menyayangkan mengapa tidak menulis secara jujur perihal kepindahan Dokter Don dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain dengan frekuensi cukup tinggi, lengkap dengan latar belakang kepindahannya.
Mengutip NTT Online paragraf tujuh “Ia pernah dipaksa melepaskan jabatan prestisius karena sikapnya yang tidak ‘berkompromi’ dengan praktik yang merugikan rakyat.” Inilah yang sebetulnya menjadi karakter dasar dokter Don, dimana determinasi personal yang dilandasi kebenaran moral berbenturan dengan hegemoni kekuasaan yang merugikan banyak orang.
Keberpihakan dan perlawanan ala dokter ini membawa stigma ganda. Oleh kekuasaan yang hegemonial dia dicap keras kepala, arogan, dan feodal. Oleh masyarakat banyak yang tidak memiliki akses ke kekuasaan yang korup dan semena-mena, dokter Don adalah pemberani. Laki-laki (jantan/mosa),pemimpin berintegritas, “the man of integrity.”
Mungkin hanya satu-satunya dokter di Flores yang pernah berurusan langsung dan “melawan” tiga bupati, Ngada, Manggarai, dan Ende.
Di Ngada dia berbenturan dengan bupati Re’o, dan pascadilengserkan ke Manggarai, “perlawanan” dokter terbukti benar. RS Bajawa tidak terurus, kebersihan diabaikan, jorok, dan manajemen RS amburadul. Demikian juga sebuah pengulangan yang sama terjadi di Manggarai dan Ende.Di Ende dia dicopot dari jabatan kepala dinas kesehatan karena tidak mau “berkompromi” dengan bupati ketika itu.
Empati
Kalau pada tahun 2004 saat suksesi bupati di Ngada, dia “dikalahkan” oleh sistem politik yang dimotori penguasa, hemat saya untuk suksesi di Nagekeo, kebusukan sistem serupa tidak lagi terulang. Rakyat, masyarakat banyak sudah muak dengan hegemoni kekuasaan dan elite yang menyesatkan.
Mereka butuh perubahan dan itu hanya dapat dimulai dan diperoleh dari pemimpin berintegritas seperti dokter Don. Paling tidak, dokter Don sudah membuktikan integritasnya melalui perlawanan atas kekuasaan yang semena-mena. Apalagi, perlawanan itu dia buktikan di tiga kabupaten dengan tiga bupati pula.
Memori publik di Flores tentu masih ingat betapa mayoritas kepemimpinan bupati di sana secara historis lebih banyak gagalnya ketimbang keberhasilan. Itu sebabnya, perlawanan dokter Don atas kepemimpinan bupati yang gagal layak dipuji.
Akhir-akhir ini, saya justru galau karena banyak calon pemimpin Nagekeo yang sedang gencar kampanyekan diri. Ada yang bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Bali, Kupang, dan di daerah rantau lain, tapi “bersemangat” jadi bupati Nagekeo. Mereka memang orang Nagekeo, sayang sudah terlalu lama tercerabut dari akar daerahnya sendiri.
Empati pemimpin jenis ini boleh dibilang terlalu punya jarak, mereka tidak lagi dekat dengan komunitas lokal yang miskin. Itu berarti, hanya pemimpin yang dekat secara fisik yang bisa membangkitkan empati. Hanya perubahan yang dilandasi empati dan dimotori pemimpin berintegritas yang bisa membuat rakyat sejaterah.
Sebagai catatan terakhir tentang dokter Don, jika benar PDI-P sebagai salah satu partai terbesar di Nagekeo sudah siap mencalonkannya, itu berarti perubahan sudah di depan mata. Rakyat sudah mendambakan perubahan. Saya yakin, Nagekeo akan punya pemimpin layaknya kabupaten Sikka yang baru saja memilih pemimpinnya dengan cerdas. Potret bupati Sikka terpilih Sosimus Mitang dan Wakilnya Damianus Wera, tak ubahnya Dokter Don di Nagekeo.
Mereka dinista, dipinggirkan, difitnah oleh penguasa dan elite yang tamak. Tapi, rakyat jugalah yang akhirnya “menghakimi” kecongkakan elite dan penguasa zalim dengan kembali menempati pemimpin beritegritas tepat pada tempatnya.
Bravo Dokter Don, Bravo Nagekeo, Bravo Perubahan!!!
Penulis Mahasiswa Semester Terakhir Akademi Bahasa Asing (ABA) Kupang