Dari Adonara ke Dikotomi Timur Barat
(Bagian terakhir dari 3 seri catatan bersama tim kajian Adonara)
Oleh Peren Lamanepa
|
MENELUSURI Adonara saat itu ternyata tidak beda sulitnya dengan menyusuri sejarah Adonara. Dan untuk menyusuri sejarah Adonara tidak lengkap kalau tidak menyinggahi Desa Adonara yang pada awalnya bernama Liang lolon (di atas tebing). |
Kamis 10 April 2008 siang itu, setelah berkunjung ke situs bekas kerajaan Adonara di Sagu dan menemui beberapa keturunan raja dari keluarga Kamba, tim pengkaji dengan menupang sebuah minibus yang difasilitasi Ketua FPArK dipandu Sekretaris FPArK menuju Adonara. Kami menyusuri jalan panjang dan menikmati aneka gambaran nyata dinamika pembangunan Flores Timur dalam konteks sebagai sebuah kabupaten kepulauan.
Memasuki Desa Adonara, tampak Danau Kota Kaya seperti menganga menyambut dari sisi kanan jalan ke gapura desa. Di sisi lainnya dari jalan yang terbuat dari coran semen, ada puing bekas benteng, sebagai gambaran adanya pengaruh kolonialisme di wilayah itu. Pak Martinus Luli Hada yang guru sejarah menyebut puing itu sebagai bekas benteng Portugis. Walau demikian tidak ada gambaran lebih lengkap tentang seberapa kuat pengaruh Portugis di sana.
Memasuki perkampungan, saya sempat menemukan 9 buah meriam tua. Empat meriam diletakan mengawal lango bele (rumah adat) di 4 penjuru. Satu meriam yang lain yang menghadap ke pintu masuk ke rumah adat ada tertulis “Compagnie Des Indes de France 1753” yang mulai pudar. Sedangkan 4 meriam lainnya seperti berserakan di dalam kampung, masih tak jauh dari rumah adat.
Tapi menurut Ama Nue Ape, tetua adat Desa Adonara, total meriam tua yang berada di desa itu ada 11 buah. 2 yang lain berada di rumah adat. Menurutnya, pernah oleh beberapa orang ditawari akan dibeli tapi tidak dilepaskan untuk dijual.
Sebelumnya, saat di Sagu, kami juga ditunjukan tugu tua yang seluruhnya terbuat dari batu mamer warna putih. Pak Martinus Luli Hada menyebut jugu itu adalah makam prajurit Angkatan Laut Belanda berpangkat Letnan – Luitje van Der Borg yang meninggal pada 3 Agustus 1904. Disekitar makam itu juga terdapat 2 makam lainnya yang hampir tak berbekas.
Dari bukti-bukti fisik yang ada, bisa terbaca adanya pengaruh Belanda dan Portugis di Kerajaan Adonara? Ada bukti fisik lain berupa surat keputusan dari pemerintahan kolonial Belanda yang diberikan kepada Raja Adonara, yang sedikit mengusik nalar kami untuk bertanya mungkinkah kerajaan Adonara adalah bentukan Belanda? Dan inilah sesungguhnya pintu masuk menuju ke pengembaraan selanjutnya menyusuri Adonara, yang konon ada sebuah nama pemberian kolonial?
Beberapa penuturan yang sempat kami rekam saat berada di Waiwerang menyebutkan bahwa nama Adonara merupakan pemberian orang Belanda. Kata Adonara terdiri dari 2 suku kata ADO = Adu dan NARA = Kawan (Saudara). Secara harafiah, Adonara berarti adu saudara, atau dalam terjemahan yang lebih bebas lagi, Adonara dapat berarti adu domba. Terjemahan yang demikian itu mengingatkan kita semua pada adu domba yang digunakan Belanda ¬sebagai sebuah tak-tik untuk menguasai lawan. Mungkinkah meletusnya perang Paji – Demon tahun 1859 adalah bagian dari pengembangan politik adu domba Belanda dengan pemberian nama Adonara kepada pulau yang pada tahun 2007 berpenduduk 102.854 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan dan 111 desa itu?
Versi lain tentang asal muasal nama Adonara juga disampaikan tokoh karismatik Desa Adonara, Ama Nue Ape, yang juga petutur sejarah Adonara. Nama Adonara menurutnya berasal dari kata DONARA (pemberian orang Portugis) dan merupakan gabungan dari 2 kata; Don (Portugis) = orang berderajat dan Nara (Lamaholot) = kompleks permukiman. Karena pengaruh cara pengucapan kita orang Lamaholot, Donara kemudian berubah menjadi Adonara yang menurut Ama Nue Ape berarti kompleks permukiman para bangsawan. Sebelumnya, Desa Adonara bernama Liang Lolon (di atas tebing) sebagaimana geografisnya yang masih terlihat hingga sekarang.
Apalah arti sebuah nama? Terlepas dari kontroversi tentang asal muasal nama Adonara, serta aneka konflik yang terjadi di Adonara yang sering menyita banyak perhatian, waktu dan dana dari Larantuka (sebagai pusat pemerintahan kabupaten), diakui atau tidak Adonara wilayah penyanggah utama perekonomian Kabupaten Flores Timur. Ini sudah berlangsung sejak awal berdirinya Flores Timur. Namun politik pembangunan yang dikembangkan selama ini dari pusat kekuasaan di Larantuka ternyata hanya melahirkan dikotomi antara orang pulau (Adonara – Solor) dan Larantuka. Pembangunan Flores Timur sepertinya hanya selesai di Larantuka sehingga meninggalkan aneka kesenjangan antarwilayah yang masih nyata. Mungkinkah kabupaten baru di Adonara merupakan satu-satunya jalan untuk bisa menjawab situasi traumatik itu tadi?
Forum diskusi antara masyarakat Adonara Barat dengan tim pengkajian dari UGM yang berlangsung di aula kantor Camat di Waiwadan, Kamis (10/4) malam lalu menarik untuk disimak, karena ternyata di forum itu terungkap adanya kekhawatiran orang Adonara Barat terhadap dominasi timur (wilayah Adonara Timur). Timur digambarkan sebagai sebuah wilayah berpenghuni manusia yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi. Sementara di barat hingga kini masih menyisakan angka putus sekolah yang tinggi.
Walau mengklaim memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, khususnya dari aneka komoditas unggulan yang dihasilkan para petani di wilayah barat, masyarakat Adonara Barat ternyata tidak mampu mengembangkan diri dan dininabobokan oleh alam, dan bahkan lupa menyekolahkan anak-anak mereka. Itu soal dikotomi baru di Adonara.
Dalam kaitan dengan peran Larantuka, kondisi infrastruktur di hampir seluruh wilayah Adonara yang masih jauh tertinggal, jelas mengungkapkan adanya kesenjangan antarwilayah yang sangat nyata. Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Flores Timur sepertinya masih sebatas slogan belaka. Proses percepatan pembangunan adalah kata-kata tanpa makna. Namun demikian, kabupaten Adonara menurut orang Adonara Barat bukan hal yang sangat mendesak. Harus diawali dengan penyiapan infrastruktur yang baik serta berbagai sarana dan prasarana pendukung lainnya, yang seluruhnya disiapkan oleh Larantuka. Artinya membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 10 tahun lagi untuk mewujudkan Adonara jadi kabupaten?
Selain untuk memperbaiki insfrastruktur, penundaan waktu kelahiran kabupaten Adonara juga mereka maksudkan untuk mempersiapkan mental dan situasi batin manusia di wilayah barat Adonara menghadapi kemungkinan perubahan yang bakal datang bersamaan dengan otonomi. Artinya, mereka tidak ingin kue pembangunan yang selama ini tidak dibagikan secara merata oleh Larantuka, masih akan dijumpai di era otonomi Adonara itu nantinya.
Suasana di Waiwadan itu sepertinya menjadi warna lain bagi tim pengkaji dalam merumuskan hasil kajian mereka. Keterbukaan mengungkapkan kekesalan, rasa trauma, juga cerita-cerita sukses tentang pembangunan diharapkan akan ikut memperkaya warna hasil kajian yang dilaporkan tim itu nantinya. Maksudnya agar laporan kajian akademis itu nantinya bisa benar-benar bermanfaat bagi perkembangan pembangunan di Flores Timur nantinya, baik melalui pembentukan kabupaten baru atau tanpa kabupaten baru.