DOKTER DON, PEMIMPIN PERUBAHAN
CALON BUPATI NAGEKEO, FLORES
|
OLEH teman-temannya ia dijuluki the man of integrity. Setiap tugas yang diberikan selalu dijalankannya dengan serius, disiplin, tuntas, sepenuh hati, dan penuh tanggung jawab. Ia pun tidak bisa diajak untuk bersekutu dengan kekuatan yang merugikan rakyat dan pihak yang dilayani.
Selepas pendidikan di Fakultas Kedokteran, UGM, 1985, dr Johanes Don Bosco bekerja di Pengeboran Minyak Lepas Pantai, Pertamina. Tapi, panggilan untuk membangun daerah asal mengajaknya untuk kembali ke Flores, NTT. Sebagai abdi negara, ia memulai karir dari level paling bawah, yakni kepala Puskesmas Danga, Mbay, Nagekeo, NTT (1986-1987). |
Di kota Kecamatan yang kini menjadi ibukota Kabupaten Nagekeo inilah dr Don mengenyami Sekolah Dasar.
Di tangan dr Don, puskesmas menjadi lebih hidup. Kesan pertama yang langsung kelihatan adalah penampilan puskesmas yang bersih, teratur, dan manusiawi. Penduduk sekitar tak perlu mencari rumah sakit atau poliklinik yang jauh di kecamatan lain atau di ibukota kabupaten kecuali atas rujukan sang dokter.
Sukses di Mbay, dr Don kemudian dipercayakan memimpin Puskesmas Boawae (1987-1988) dan selanjutnya menjadi Direktur RSUD Bajawa, Ngada (1988-1993). Dengan kedisiplinan yang tinggi dan kemampuannya menggerakkan karyawan, RSUD berubah menjadi rumah sakit yang bersih dan menyenangkan.
Di mana pun dipercayakan, dr Don selalu berhasil mengubah wajah rumah sakit yang sebelumnya jorok menjadi bersih. Ketika menangani RSUD Manggarai (1993-1995) dan RSUD Ende (1995-1997), ia pun berhasil membuat kedua rumah sakit dibanjiri pasien. “Saya selalu berusaha agar manfaat kehadiran saya dirasakan oleh banyak orang, terutama di lingkungan saya bekerja,” ujar dr Don.
Bagi dr Don, jabatan adalah alat untuk mengabdi rakyat. Ia pernah dipaksa melepaskan jabatan prestisius karena sikapnya yang tidak ‘berkompromi’ dengan praktik yang merugikan rakyat.
Di mana pun ia bekerja, ia selalu menjadi pelopor perubahan.
Dekat dengan Rakyat
Ketika mengikuti pilkada di Kabupaten Ngada, 2005, langkah dr Don tersandung di konvensi Golkar. Lewat rekayasa sistematis, DPD II Golkar Ngada memenangkan calon lain meski sang calon kurang didukung akar rumput. Hasil survei objektif di level grass root di seluruh wilayah Ngada menunjukkan, dr Don mendapat dukungan beberapa kali lebih besar dari calon yang saat itu incumbent.
Kebenaran survei kemudian terbukti pada ‘pertandingan final’. Calon bupati Gokar bukan saja tidak bisa menjadi pemenang, melainkan hanya mampu berada di urutan ketiga dari empat kandidat. Pemenang pilkada adalah calon dari partai gabungan.
Dalam pilkada 2008, dr Don sudah melamar resmi sebagai kandidat dari PDIP. Untuk menunjukkan keseriusannya, ia sudah menyampaikan pensiun dini dari PNS dan mendapatkan Kartu Tanda Anggota PDIP.
Hasil penjaringan yang dilakukan oleh DPC PDIP Nagekeo, 1-7 Maret 2008, menunjukkan dr Don didukung oleh semua (7) PAC dan lebih dari 80% ranting. Lebih dari 50% ranting memilih dr Don sebagai calon tunggal.
Akseptibilitas dr Don tidak dibangun dalam satu-dua tahun. Sejak 21 tahun lalu, ia sudah hidup bersama rakyat setempat sebagai dokter. Bersama istrinya –yang bekerja sebagai dokter spesialis mata–, ia acap mengunjungi masyarakat untuk berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Komplit Sebagai Kandidat
Sebagai putra Nagekeo, dr Don terlibat aktif dalam proses pemekaran, baik lewat diskusi terbatas, penyandang dana, maupun sebagai anggota kelompok kerja masyarakat Nagekeo di Ende yang antara lain dipercayakan untuk menyambut pejabat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD).
Keterlibatannya dalam proses pemekaran membuat dr Don tahu persis aspirasi masyarakat dan sekaligus mendorongnya untuk mengawal aspirasi itu. Ia terpanggil untuk memastikan bahwa kabupaten baru mampu membawa masyarakat Nagekeo meraih penghidupan yang lebih baik.
Masyarakat setempat umumnya menilai dr Don sebagai calon yang paling komplit dan siap mengemban tugas sebagai bupati kabupaten baru. Ketika Harian Flores Pos menggelar debat terbuka para calon bupati Nagekeo, 30 Juni 2007 di Mbay dengan topik ‘Seandianya Saya Bupati Nagekeo’, hanya dr Don yang tampil meyakinkan dengan perencanaan matang sebagai calon pemimpin kabupaten baru. Ia mampu menyajikan visi, misi, dan strategi yang sesuai kebutuhan rakyat Nagekeo yang 90% hidup sebagai petani.
Dia adalah kandidat komplit dilihat dari aspek fit & proper (kemampuan & kelayakan). Kemampuan dr Don ditunjang oleh pendidikan dan pengalaman yang luas, antara lain di jabatan pemerintahan. Ia juga mempelajari manajemen kesehatan masyarakat di FK UGM dan studi banding di luar negeri.
Dokter Don adalah figur yang mudah bergaul. Ia juga gemar berorganisasi, bahkan sejak sekolah dasar. Di Golkar, ia pernah menjadi pengurus DPD II Ngada periode 1989-1994.
Dari sisi kelayakan, dr Don adalah figur yang bersih yang tak pernah terkena kasus hukum dan pelanggaran moral. Keberhasilannya membina keluarga memperkuat posisinya sebagai public figure, pemimpin masyarakat yang menjadi role model atau suri teladan bagi masyarakat.
Sebagai kabupaten baru, Nagekeo membutuhkan pemimpin yang menaruh sepenuh hatinya pada kepentingan rakyat, pemimpin yang kuat, pemimpin yang melayani, dan pemimpin yang berani membuat perubahan demi kepentingan rakyat. Hans Obor
Curiculum Vitae
dr Johanes Don Bosco Do. M. Kes.
Lahir : Watuapi, Nagekeo, Flores 14 April 1957.
Pekerjaan : Dokter umum.
Alamat : Jl Banteng No. 34 Ende, Flores, NTT.
Telepon rumah: (0381)22119.
Telepon seluler: 081339410993.
Istri : dr Eduarde Yayik Pawitra Gati, SpM.
Saat ini, bekerja di RSU Ende, ketua IDI Perintis Cabang Ende (2002-2005)
Ketua IDI Cabang Ende (2007-2010)
Anggota Persatuan Ahli Mata Indonesia, Cabang DKI DKI (1998-kini).
Lahir : Probolinggo, Jatim 13 Oktober 1961.
Pekerjaan : Dokter spesialis mata.
Anak
Dionisius Laksamana Bisara Putra, alumnus MIPA – IPB.
Baltazar Bimo Bisara, FK – UGM.
Donata Asta Netunisa, FK-UGM.
Ayah: Ph Alo Bisara
Lahir 1932. Pendidikan OVO, Ndona, Flores, 1948.
Pensiunan guru SD. Anggota DPRD Ngada, 1957-1974.
Ketua Partai Katolik Kecamatan Aesesa, Ngada, NTT, 1957-1970.
Ketua Partai Katolik Kabupaten Ngada, NTT,1971-1974.
Saat ini menetap di Mbay, ibukota Nagekeo.
Ibu : Ibu rumah tangga. Lahir 1937.
Riwayat Khusus
Salah satu dari tiga bakal calon bupati dari Partai Golkar pada Pilkada di Kabupaten Ngada untuk periode 2005-2010.
Riwayat Pekerjaan
Staf Dinas Kesehatan Propinsi NTT, 2001-sekarang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, 1997–2001.
Direktur RSUD Ende, 1995–1997.
Direktur RSUD Manggarai, 1993–1995.
Direktur RSUD Bejawa, Ngada, 1998–1993.
Kepala Puskesmas Boawae, Ngada, 1987–1988.
Kepala Puskesmas Danga, Mbay, Ngada, 1986–1987.
Dokter pada pengeboran minyak lepas pantai, Pertamina, 1985.
Riwayat Organisasi
Pengurus DPD II Golkar Kabupaten Ngada, Bidang Pengabdian Masyarakat periode 1989-1994.
Anggota Badan Perwakilan Mahasiswa FK UGM 1980–1985.
Riwayat Pendidikan
Program Master Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan di UGM 2004.
Pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran UGM 1985.
Pendidikan SMA di SMA swasta Katolik Syuradikara, Ende, Flores.
Pendidikan SMP di Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko, Ngada, Flores
Pendidikan SD di SD Dhawe, Mbay, Nagekeo, Flores, NTT.
Riwayat Khusus
Health Service and Management Course di Melbourne Australia, 2001.
SEPADYA DEPDAGRI di Yogyakarta, 1994
Manajemen Proyek di Kupang, 1989.