Dukungan Untuk Mahasiswa Unhalu
Oleh Rizal Fernandez
Pengamat Masalah Sosial
Beberapa hari belakangan ini kita disuguhkan siaran berita televisi yang menampilkan perseteruan antara mahasiswa, polisi, dan massa tak dikenal yang terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Semua itu berawal dari demonstrasi yang digelar oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) dan mahasiswa Universitas Haluoleo (Unhalu) yang menolak penggusuran tempat usaha PKL di depan kantor walikota.
Penggusuran tersebut dilakukan untuk mempercantik kota Kendari dengan harapan agar nantinya kota tersebut akan meraih penghargan Adipura. Suatu hal yang sungguh tidak populis, dengan mengorbankan rakyat kecil hanya untuk meraih prestise.
Di tengah demonstrasi tersebut, tiba-tiba dari dalam kantor walikota muncul masa yang tak dikenal dan ditengarai sebagai preman suruhan walikota menyerbu peserta demonstrasi. Maka pecahlah bentrokan. Konflik tersebut berlanjut dengan penyerangan kantor walikota oleh mahasiswa Unhalu yang disusul oleh penyerbuan aparat kepolisian yang membabi buta di kampus Unhalu untuk “membebaskan” salah seorang anggota polisi yang “disandera” di kampus tersebut.
Dan terakhir adalah penyerbuan kampus Unhalu oleh massa tak dikenal pada acara wisuda mahasiswa Unhalu. Kita berharap semoga aksi kekerasan ini segera berakhir, karena untuk menyelesaikan permaalahan diperlukan jalan dialog.
Meskipun mahasiswa Unhalu juga ikut terlibat dalam konflik tersebut, namun penulis mendukung sepenuhnya ide awal dari mahasiswa Unhalu yang menggelar demonstrasi bersama PKL untuk menolak penggusuran. Di tengah tingginya apatisme mahasiswa dan kamu intelektual sekarang terhadap realitas sosial dan ketakberpihakan mereka pada rakyat kecil, mahasiswa Unhalu membuka mata kita.
Sejarah bangsa memang digerakkan oleh kaum muda, di mana mahasiswa menjadi salah satu elemennya. Kita ingat bagaimana perjuangan para pendiri bangsa kita yang mendapat pencerahan ilmu pengetahuan semasa poliik etis yang memproduksi pola pikir kritis atas realitas yang ada, berjuang untuk meraih kemerdekaan bangsa.
Semua itu dilakukan atas dasar tanggung jawab sebagai orang yang mengetahui dan menyadari lebih awal daripada orang lain, dan mengabdikan pengetahuaannya untuk menyadarkan orang lain yang belum tahu. Hasilnya tentu saja kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.
Setelah kemerdekaan suara mahasiswa terus menggema, meskipun seringkali pula dibungkam dengan cara-cara yang mirip dengan kasus Kendari. Namun hal tersebut tidak sanggup membunuh roh kekritisan kaum muda. Alhasil tumbanglah rezim Soekarno, dengan melahirkan tokoh angkatan 66 yang di kemudian hari lebih banyak menggadaikan idealismenya karena ingin meraih kekuasaan.
Begitu masuk ke rezim orde baru, suara mahasiswa tak henti-hentinya bergema meskipun zaman itu Indonesia menjadi lebih otoriter dan represif. Peristiwa Malari menjadi titik awal pemasungan aktivitas mahasiswa dengan mengarahkan mahasiswa untuk masuk kandang, kembali ke kampus dan hanya boleh belajar tanpa memperdulikan keadaan sosial sekitar. Meskipun demikian, akhirnya Soeharto tumbang juga setelah mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR tahun 1998.
Setelah masa reformasi ini suara mahasiswa menjadi lemah dan nyaris tak terdengar kekuatannya seperti saat awal-awal reformasi. Hal ini disebabkan oleh budaya konnsumtif yang melanda banyak kaum muda yang mengilusi mereka untuk tidak memperdulikan keadaan rakyat kecil yang tertimpa krisis, belum lagi perangkat aturan yang dikeluarkan oleh kampus seperti absensi, total Sistem Kredit Semestewr (SKS), pelarangan kegiatan keorganisasian mahasiswa, dan juga dosen-dosen yang hanya bisa mengajarkan teori tapi tidak berani untuk berpraktek dengan terjun ke masyarakat yang begitu kuatnya mendoktrinasi para mahasiswa untuk sekali lagi belajar dan belajar dalam artian masuk kelas saja.
Menyangkut tindak kekerasan, itu juga bukan sepenuhnya salah mahasiswa Unhalu. Ada aksi ada reaksi. Aksinya adalah penyerbuan oleh massa preman yang dilakukan terhadap peserta demonstrasi, yang dibalas oleh mahasiswa dengan tindak kekerasan pula.
Namun di sini dapat kita lihat, bahwa kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa, dan pelajar dalam tawuran, merupakan buki bahwa pendidikan yang selama ini kita jalani ternyata gagal mementuk kader-kader muda bangsa yang persuasif, yang mengedepanan cara-cara dialog untuk menyelesaikan masalah.
Hal ini terjadi karena peserta didik bertindak bagai robot yang yang dicekokki ilmu pengetahuan semata agar nantinya dapat dijadikan sebagai pegangan dalam memperoleh pekerjaan. Ya kita dididik untuk menjadi buruh dalam pasar kapitalisme. Karena dibesarkan dalam suasana kapitalisme, tentu yang ditekankan adalah egoisme semata. Maka yang muncul adalah apatisme.
Perlu perubahan mendasar dalam pola pendidikan kita. Esensi pendidikan harusnya sebagai proses humanisasi, di mana dalam pendidikan, ruang pengetahuan manusia dibuka untuk mencapai kesadaran atas proses kehidupan yang dijalaninya. Realisasi diri manusia ini kemudia menciptakan kesadaran manusia atas pendidikan sebagai salah satu tonggak penentu terciptanya peradaban yang akhirnya melahirkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Namun akankah pendidikan nasional kita akan diubah konsepnya seperti yang penulis maksud di atas ? Sepertinya para pemangku kekuasaan negeri ini buta, atrau pura-pura buta, sekaligus tuli. Jika emang begitu, maka tak ada visi dari pemimpin kita terhadap bangsa ini.
Pada akhirnya, kembali penulis meneriakkan dukungan atas perjuangan awal mahasiswa Unhalu. Tapi, ingat jauhi tindak kekerasan, yang akan merugikan kepentingan masyarakat umum, dan lebih mengutamakan dialog. Bukankah intelektualitas harus selalu membela yang lemah ? Bukan membela siapa yang membayar dan berduit.