Eduard Tanur, Didaulat Jadi Pejabat Itu Tidak Gampang
Menjadi pejabat publik dijaman sekarang adalah tidak gampang seperti pejabat jaman orde baru. Semua tindak tanduk pejabat selalu menjadi perhatian dan buah bibir rakyat. Apakah pejabat itu telah melakukan hal yang baik atau sebaliknya melakukan perbuatan amoral adalah penentu nasib bagi pejabat itu sendiri. Kalau mau jabatan berumur panjang maka harus menggunakan moment kepercayaan rakyat itu untuk mengukir prestasi, yang intinya adalah demi kesejahteraan rakyat negeri ini. Tetapi kalau mau jabatan seumur jagung maka cukup lakukan beberapa hal yang bertolak belakang dengan kepercayaan rakyat semisal korupsi, selingkuh, menipu dan bersikap masa bodok atau angkuh.
Rakyat adalah segalanya, begitulah yang dianut Eduard Tanur, anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2004-2009 ini. Tiada hari tanpa berpikir dan diyakini hanya lewat keheningan maka bisa menemukan sesuatu yang menjadi arti hidup dalam mengembang tugasnya sebagai pejabat publik.
Pria kelahiran Atambua, Kabupaten Belu pada 02 Pebruari 1961 lalu ini, tidak tanggung-tanggung kalau diajak untuk berdiskusi tentang rakyat NTT dan lingkungan hidupnya yang kian hari kian memprihatinkan. Padahal kalau mau dilihat dari sisi ekonomi, Tanur adalah seorang pengusaha yang boleh dibilang sukses di NTT tetapi itu tidak menjadi target utamanya. Menurut dia, hidup akan lebih memiliki makna apabila seseorang menjadikan dirinya garam dan lilin bagi sesamanya.
Ditemui dikediamannya di Kefamenanu belum lama ini, suami dari Ny. Meiriska Wijaya, SE terus berbicara tentang fenomena alam dan penderitaan rakyat. Tidak bosan-bosan dia menumpahkan uneg-unegnya yang bisa diandalkan untuk luput dari hidup yang menggelisahkan.
“Hidup ini tidak akan ada arti kalau tidak berbuat sesuatu bagi sesama dan lingkungannya. Karena itu saya tertarik dengan dunia politik untuk memperjuangkan apa yang selama ini merongrong nurani saya. Kalau mau berpikir ego, maka saya seharusnya cukupkan diri dengan dunia bisnis saja selama ini. Tetapi apalah gunanya kalau talenta yang diberikan Tuhan tidak kita kembangkan bagi sesama. Kita hidup serba ada, lalu sesama kita berteriak lapar atau menangis histeris meratapi keluarganya yang mati terkubur bencana alam dan busung lapar. Hal itulah yang memanggil saya untuk masuk menjadi anggota DPRD TTU “, ujar Tanur yang juga adalah Ketua DPC PKB TTU.
Ayah dari 3 putera masing-masing Ronald Tanur, Raymond Tanur dan Refan Tanur ini memiliki prinsip bahwa menjadi anggota DPRD bukan untuk mencari uang tetapi harus memperjuangkan aspirasi rakyat yang terus menjerit dalam penderitaan.
Gajinya Untuk Rakyat
Komitmen Tanur ternyata tidak hanya menjadi isapan jempol atau janji-janji bualan belaka. Dia telah mewujudkan sebagian nuraninya untuk rakyat dengan mempersembahkan seluruh gajinya untuk rakyat selama menjadi anggota dewan.
Di Kecamatan Insana misalnya, sejak 3 tahun lalu Tanur memberikan sebuah traktor pembajak tanah untuk membalik lahan rakyat secara gratis. Tak pelak selama ini sudah ribuan hektar kebun dan lahan tidur milik rakyat telah dipotensialkan jadi lahan yang ramah lingkungan.
“Berbicara tentang rakyat harus diikuti dengan aksi nyata dilapangan. Kalau hanya omong-omong saja maka tidak akan ada hasil. Dihadapan kita, rakyat katakan iya pak, tetapi setelah itu mereka tidak melakukan apa yang didengar. Rakyat hanya mau berubah kalau dia melihat hasil, itulah yang saya nangkap dan memberikan gaji saya untuk mereka seutuhnya. Bersama keluarga, saya cukupkan diri dengan tunjangan sebagai dewan” kata Tanur tersenyum.
“Rakyat dari distrik Insana yang mengusung saya masuk DPRD TTU, jadi saya serahkan gaji tiap bulan kepada mereka untuk membeli solar, suku cadang dan gaji operator traktor dilapangan. Keprihatinan saya sebenarnya menyeluruh untuk semua warga tetapi karena hanya itu saja kemampuannya maka untuk sementara saya prioritaskan dulu kepada distrik yang memilih saya jadi dewan. Kalau semua rakyat percaya saya untuk maju lebih besar lagi maka tentunya perhatian untuk rakyat lebih besar dan meluas”, tambah Tanur.
Menurut Tanur, bantuan kepada rakyat sebenarnya banyak versinya seperti memberikan paket sembako atau uang tunai tetapi itu tidak mendidik. Traktor pembajak gratis, adalah efektif untuk mengarahkan warga lepaskan pola pertanian tebas bakar yang telah mentradisi di NTT.
“Daerah kita hampir setiap saat selalu dikejutkan dengan kabar bencana alam. Longsor, banjir, kemarau panjang, hujan berlebihan dan adanya serangan hama itu karena perilaku kita yang tidak ramah lingkungan. Rakyat terus lakukan tebas dan bakar hutan serta padang ilalang lalu kita dengan seenaknya mengeluarkan aturan untuk melarang semua aktifitas warga yang merusak lingkungan dan lupa memberikan solusi bagi rakyat. Traktor bajak tanah gratis adalah hasil pemikiran saya dan itu diwujudkan kepada rakyat. Alhasil setelah 3 tahun berjalan, rakyat yang mendapat bantuan bajak gratis itu tidak mau lagi tebas bakar”, sambung Tanur.
Tekad Sejahterakan Rakyat
Untuk mensejahterakan rakyat secara keseluruhan maka tidak bisa dilakukan dalam kekuatan yang relatif kecil. Untuk itu PKB TTU yang dipimpin Tanur dan berhasil memperoleh 4 kursi di DPRD TTU pada pemilu 2004 lalu ini, berusaha untuk memperoleh kursi lebih banyak lagi pada pemilu 2009 nanti.
Diharapkan dengan peroleh kursi yang banyak, maka jabatan-jabatan politik pengambil keputusan seperti jabatan ketua DPRD dan jabatan bupati itu akan mudah diduduki dari PKB. Tanpa jabatan itu maka tidak banyak yang harus dilakukan untuk rakyat kecuali aksi individu.
“Membuat sesuatu yang besar dan berguna bagi rakyat adalah tergantung pada besar kecilnya kepercayaan. Karena itu saya bersama pengurus DPC PKB TTU terus berjuang melakukan konsolidasi hingga ketingkat RT dalam suatu desa di 9 kecamatan di TTU, untuk menjaring putera-puteri desa menjadi caleg lewat pintu PKB. Target kita 8 kursi atau lebih pada pemilu 2009 nanti. Dengan banyaknya kursi yang kita peroleh maka tentunya akan lebih mudah untuk merebut jabatan ketua DPRD dan Jabatan Bupati yang merupakan jabatan penentu bagi maju atau mundurnya suatu daerah”, imbuhnya.
Pria keturunan Cina ini ternyata memiliki obsesi yang besar bagi rakyat NTT, dia malah menyumbangkan sebuah mobil Taft kepada badan pengurus untuk melakukan konsolidasi. Mobil yang dicat hijau lengkap dengan logo PKB serta bertuliskan Ita Nian Makne, Hit Es I (ini kita punya) dan Mau Maju Pilih PKB ini terus lakukan road show sejak awal tahun lalu. Selain itu 4 kendaraan roda dua yang juga di cat hijau juga diberikan kepada pengurus tingkat kecamatan untuk memperlancar kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat.
Tanur pun tidak tanggung-tanggung menjawab sanggup, ketika diusulkan rakyat dalam sebuah pertemuan untuk mencadi calon DPR RI.
“Kalau itu kepercayaan rakyat kenapa kita abaikan. Saya akan merespon semua permintaan rakyat baik dalam situasi duka maupun suka. Itu adalah permintaan baik dan saya siap untuk dicalonkan jadi DPR RI. Kalau jadi DPR pusatkan kita sudah ngomong skop nasional dan aspirasi rakyat juga lebih gampang kita perjuangkan. Intinya dimana saja kita berada kita harus fungsikan telinga, mata, otak dan hati. Melihat, mendengar lalu otak yang mengolah hingga selanjutnya hatilah yang berbicara, itulah yang diharapkan rakyat. Saya siap jadi calon anggota DPR RI”, pungkas Tanur serius.
Mungkinkah Tanur yang berbendera PKB ini mewujudkan impian rakyat NTT? Tentunya ini butuh kerja keras, tebar pesona selama ini adalah modal utama untuk dikembangkan lebih luas lagi. Semuanya tidak terlepas dari amanat demokrasi itu sendiri, ‘Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.’*** (Yan Meko)