Anjingku Satpam Tanpa Gaji, Kini Jadi Mangsa
Oleh Yan Meko
Gonggongan anjing milik penduduk setempat terdengar menyalak dikejauhan, tak berselang terdengar suara babi melengking tinggi. Seekor babi liar masuk kebun dan berhasil ditangkap oleh beberapa ekor anjing penjaga kebun petani. Tiga lelaki muda yang hendak beristrirahat dibawah naungan pohon cemara terpaksa urung berceloteh banyak dan bergegas berlari kearah suara hewan-hewan tersebut.
Hutee, hutee Sonbiko, teriak salah seorang pemuda itu memberi perintah kepada anjing bernama sonbiko. Pengejaran berlanjut kearah timur hingga pada akhirnya babi itu tertangkap dilereng bukit Bituin, Desa Manamas yang menjadi batas negara Indonesia (Kabupaten Timor Tengah Utara ) dan Timor Leste (distrik Oekusi).
Tiga pemuda itu pulang memikul seekor babi besar berwarna hitam tanpa potongan telinga (babi liar). Hasil buruan diturunkan dari pundak dan diletakan dibawah pohon cemara tempat peristrirahatan semula.
Pit Elu, Maksi dan Cornelis adalah nama ketiga pemuda itu yang berkebun didekat garis batas negara pada April 2007 lalu. Mereka mengaku banyak bulir jagung yang belum sempat dipanen telah disikat oleh babi liar. Tangkapan itu adalah tangkapan pertama setelah sejak lima hari lalu melakukan penjagaan kebun.
“Babi ini adalah babi liar karena tidak memiliki identitas. Telinganya masih utuh tanpa potongan. Jadi kita bakar saja dan membagikan kepada beberapa warga yang memiliki kebun disini”, ujar Maksi.
Kata-kata Maksi langsung diamini dua temannya yang spontan sigap mengumpulkan daun-daun segar untuk menjadi alas saat memotong babi. Beberapa warga yang berhuma disekitar tempat itu juga ikut berkumpul melakukan acara pesta daging hasil buruan anjing sonbiko.
Praktek anjing dijadikan teman berburu oleh manusia kian hari kian berkurang menyusul semakin berkurangnya satwa liar lantaran habitatnya dirusaki manusia karena berbagai keperluan.
Diskriminasi Rasial
Seiring dengan berlalunya waktu, tugas anjing pun berubah dan berkurang, dari penjelajah hutan menjadi satpam rumahan. Anjing boleh dikatakan naik pangkat jadi satpam kendati tanpa seragam dan gaji pada tiap awal bulan.
Pada pangkatnya yang baru ini tidak semua anjing yang dipelihara manusia bernasib baik. Boleh dikatakan anjing diperlukan berdasarkan skill atau keberhasilan dalam menghibur, menyelamatkan atau melacak persoalan pelik yang dihadapi manusia.
Sebut saja anjing pelacak, hewan ini diperlakukan khusus dan jatah menu tiap harinya lebih dari menu keluarga miskin di Indonesia. Daging steak, makanan kaleng buatan Jerman dan minum susu khusus. Tentunya semua yang disantap anjing jenis ini harus steril dari kontaminasi virus atau bakteri.
Ada juga jenis anjing hasil kawin silang yang dipelihara khusus sebagai teman permainan manusia. Jenis anjing mini ini yang terbilang malas menggonggong dan tidur-tiduran saja ditempat tidur tuannya, terkesan diperlakukan hampir sama dengan manusia. Diajari bahasa tubuh, disampohi badannya lalu seenaknya meloncat ke pangkuan pemiliknya untuk disisir bulunya yang lebat. Pernah seekor anjing jenis ini di Eropa mendapat warisan oleh pemiliknya yang kaya raya tetapi hidup sebatang kara. Anjing itu kemudian dipelihara oleh negara berdasarkan wasiat dari tuannya.
Bagaimana dengan nasib anjing lokal Indonesia? Diskriminasi berdasarkan jenis adalah kenyataan pahit yang dialami oleh bangsa anjing.
Ditelusuri anjing lokal adalah anjing yang bernasib tidak beruntung. Sudah siaga tiap malam dan sesekali menggagalkan niat penjahat tetapi makanannya hanya mengharapkan sisa tulang yang telah dikuliti oleh tuannya. Anjing lokal sang pemburu ulung ini terkadang harus mengikat perut berhari-hari dan tidur bernapaskan debu. Kurus dengan tulang-tulang rusuk menonjol serta berjalan tidak seimbang bagai mabuk adalah cirikhas umum yang dapat dilihat pada anjing penduduk Indonesia. Berbagai alasan pemilik dapat dipahami, kekurangan makanan dan atau tuan-tuannya lupa memberi makanan karena sibuk memperjuangkan jatah beras miskin yang dibagikan negara.
Manusia terus berupaya memperjuangkan keadilan dan kebenaran tetapi terkadang lupa akan kewajibannya kepada negara bahkan kepada kebutuhan rumah tangganya sendiri. Sikap menuntut ratingnya terus meningkat, akibatnya lingkungan rusak, tidak ketinggalan angka kriminalitas juga menohok tajam. Manusia akhirnya semakin jauh dari apa yang diajarkan dalam ilmu alam, yakni simbiosis mutualistis (hubungan yang saling menguntungkan).
Sang Pemburu Jadi Pedaging
Sebagain besar warga Indonesia pasti memelihara anjing sebagai security lingkungan. Untuk saat ini anjing boleh dikatakan nganggur di siang hari tetapi siaga di malam hari.
Kendati makanannya tidak menentu tetapi tugasnya tetap dijalankan dengan senang hati. Gonggongan anjing di malam hari tetap bersemangat dan terdengar agresif apabila ada tamu tidak diundang masuk halaman rumah. Anjing tidak melakuan aksi mogok atau melakukan demonstrasi untuk memprotes perlakuan tuannya yang mempetieskan kebutuhan anjing. Mereka diam dan hanya akan lari mengelilingi rumah apabila dipentungi manusia. Raungan kesakitan hanya dilakukan sesaat lalu akan kembali lagi mengabdi kepada tuannya yang berakal budi.
Dewasa ini telah terjadi krisis diberbagai bidang di negeri ini ketika pemukiman manusia dihantam berbagai bencana alam. Krisis uang, krisis minyak hingga krisis daging mutlak terjadi diseantero negeri ini.
Menghadapi krisis yang berkepanjangan ini manusia pun mulai dirongrong sikap serakah. Dengan alasan mempertahankan hidup manusia malah bertindak lebih semangat melakukan penebangan liar, perburuan secara sporadis hingga melirik sahabat berburunya sang anjing sebagai daging terenak di dunia.
Bagaikan kisah Sangkuriang, anjing pun dibunuh untuk menjadi makanan. Tanpa menyesal mengingat jasa-jasa sang anjing, manusia menyantap tubuh sahabatnya dengan nikmat. Maka takdir anjing sebagai teman berburu kini berubah menjadi anjing pedaging. Sang anjing, binatang pertama yang berhasil dijinakkan oleh leluhur manusia tetap pasrah tanpa melakukan kudeta atau perlawanan massal. Apakah ini sebagai tanda-tanda akhir jaman, yang mana akan terjadi kanibal seperti Si Sumanto pemakan daging mayat manusia itu?.
Jawabannya butuh waktu untuk berhening, hanya lewat hening samedi, kebeningan hati manusia dapat terbaca dan didengar. Penyesalan pasti tejadi pada tingkat ini dan sepantasnya muncul janji diri untuk berpuasa dan tidak mengkonsumsi binatang yang telah berjasa atau keberadaannya hampir punah.
Setia Hingga Akhir
Kesetiaan anjing ditengah manusia tiadataranya, mengabdi hingga akhir hidup adalah takdir yang dijalankan. Kendati tidak dapat jatah makan secara rutin, tetapi binatang ini tetap setia. Hati binatang ini tidak berfungsi untuk memilah mana yang benar dan mana yang tidak, binatang ini hanya bergerak berdasarkan naluri, namun ia diam kendati diperlakukan kasar. Hal ini tidak terjadi bagi tuan-tuannya jaman sekarang yang dibekali hatinurani, begitu sesama atau pimpinannya lalai sedikit langsung diprotes atau malah terjadi tindak kriminal sebagai puncak amarah yang konyol.
Sang anjing memang tidak banyak menghafal bahasa manusia tetapi minimal menghafal namanya dan beberapa kalimat perintah atau penyemangat kepada dirinya. Anjing akan berlari ke depan pemiliknya apabila dipanggil. Anjing akan bertambah agresif kalau disuport atau malah akan spontan berhenti menyalak apabila ditegur pemiliknya.
Tetapi komunikasi timbal balik nampaknya tidak selalu terjadi. Sang Anjing berteriak sakit minta ampun tetapi manusia tidak peduli, dirotani terus hingga anjing itu lari menyelamatkan diri. Si anjing merasa lapar dan melakukan operasi kecil di dapur, ketika kepergok malah tidak diberi makan tetapi disirami air panas.
Saat di meja makan, anjing tetap mendongakkan kepala kearah para tuan yang sedang menyantap tanpa peduli. Bahasa sang anjing hanya terekspresi lewat tatapan mata yang sendu penuh harap, namun itulah manusia, serakah adalah hal yang manusiawi. Padahal anjing juga memiliki perut yang harus diisi makanan bukan diisi dengan batu atau rongsokan besi tua.
Disini kesetiaan anjing dapat dinilai, apakah ada jenis binatang lain yang dilepas dan setianya seperti binatang malang ini?
Mungkinkah Dilindungi
Berbagai bencana telah terjadi dan membungkus bumi karena menonjolnya sikap serakah manusia. Eksploitasi tanpa pandang bulu telah membuat lingkungan tidak seimbang dan rusak berantakan.
Menghadapi lingkungan yang kini porak-poranda sebagai teguran alam, telah menyadarkan sebagian manusia untuk kembali mencintai alam. Manusia harus memperlakukan alam sama seperti memperlakukan dirinya sendiri.
Dari Eropa dan Australia muncul Green Peace, WWF lalu mengilhami lambaga-lambaga swasta dan Pemerintah di Indonesia untuk semakin menyayangi flora dan fauna disekitarnya.
Kepada binatang yang berjasa seperti lumba-lumba juga telah dibuat UU untuk melindungi binatang laut yang terkenal dengan sifat menolong manusia ketika kapal atau perahu nelayan karam di tengah laut. Beberapa jenis flora dan fauna yang hampir punah juga telah dilindungi UU.
Sampai disini anjing juga harus dipertimbangkan sebagai binatang yang dilindungi karena jasa-jasanya kepada manusia sejak dulu hingga sekarang. Sudah tidak terhitung jasanya kepada manusia, anjing adalah tipe binatang penolong yang selalu diam setelah berhasil.
Dengan adanya perlindungan kepada sang anjing maka diharapkan akan semakin menghilang sebutan RW (daging anjing) di Indonesia Timur dan B1 (daging anjing) di Indonesia bagian barat. Anjing memang galak tetapi tidak pernah emosi dengan ulah pemiliknya. Diujung kegelisahan, anjing mengharapkan perlakuan yang adil dari manusia dengan memberikan kebebasan dan kesempatan untuk mempersembahkan kesetiaannya yang tiada banding di planet bumi ini kepada manusia. Berhentilah memangsai sahabat sendiri, jangan sampai lolongan anjing di malam purnama takkan terdengar lagi.***