Dokter Don: ‘Tukang Pel’ Rumah Sakit Yang Punya Integritas
CALON BUPATI KABUPATEN NAGEKEO
Dokter Don, nama yang semakin santer dibicarakan masyarakat Nagekeo belakangan ini. Jika sebelumnya pria kelahiran Watuapi, Nagekeo ini sangat dikenal di kalangan masyarakat rumah sakit dan puskesmas di Mbay, Boawae, Bajawa, Rutang dan Ende, kini dia yang memiliki nama Johanes Don Bosco Do itu begitu dikenal di kalangan masyarakat Nagekeo sendiri setelah dia secara terbuka menyatakan mencalonkan diri menjadi bupati Nagekeo. “Ikut mewujudkan masyarakat Nagekeo yang sehat, cerdas, sejahtera dan berbudaya” adalah cita-cita Dokter Don.
Masyarakat Nagekeo boleh memilih Dokter Don saat pilkada nanti tetapi boleh juga tidak memilih. Dokter Don hanya satu sosok karena masih banyak sosok calon yang lain. Mungkin menarik jika kita coba menakar kemampuan pria yang beristrikan juga dokter dan punya tiga anak ini. Bisa saja ada plus dan minus dari kemampuan seorang Dokter Don untuk memimpin Nagekeo nanti, namun pengabdiannya selama 21 tahun di Flores dan 10 tahun di Nagekeo tentu menjadi modal utama karena pemahamannya tentang masyarakat Nagekeo dan penghidupannya.
Selepas pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1985, Dokter Don bekerja di pengeboran minyak lepas pantai milik Pertamina. Tapi panggilan untuk membangun daerah asal mengajaknya untuk kembali ke Flores.
Sebagai abdi negara, dia memulai karir dari level paling bawah, yakni kepala Puskesmas Danga, Mbay (1986-1987). Di kota kecamatan yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Nagekeo inilah Dokter Don mengenyami pendidikan sekolah dasarnya.
Di tangan Dokter Don, puskesmas menjadi lebih hidup. Kesan pertama yang langsung kelihatan adalah penampilan puskesmas yang bersih, teratur dan manusiawi.
Sukses di Mbay, Dokter Don kemudian dipercayakan memimpin Puskesmas Boawae (1987-1988) dan selanjutnya menjadi Direktur RSUD Bajawa, Ngada (1988-1993).
Dengan kedisiplinan yang tinggi dan kemampuannya menggerakkan karyawan, RSUD berubah menjadi rumah sakit yang bersih dan menyenangkan.
Di manapun dipercayakan, dokter Don selalu berhasil mengubah wajah rumah sakit dari yang kotor menjadi bersih. Dia sendiri giat memegang sapu dan alat pel untuk membersihkan lantai-lantai rumah sakit. Akhirnya sebagian orang memberi julukan pada dokter Don sebagai ‘tukang pel’ karena berpindah dari puskesmas yang satu ke puskesmas lain atau dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain hanya untuk menata menjadi lebih bersih dan sehat.
Semangat pengabdian dokter Don pada para pasiennya terus menggiatkan dirinya pada peningkatan pelayanan medis melalui disiplin pelayanan oleh para kolega medisnya. Dampaknya fantastis yakni lonjakan jumlah pasien yang berobat.
Ketika menangani RSUD Manggarai (1993-1995) dan RSUD Ende (1995-1997), Dokter Don pun berhasil membuat kedua rumah sakit dibanjiri pasien. Dimana pun dia bekerja, dia selalu membuat perubahan.
“Saya selalu berusaha agar manfaat kehadiran saya dirasakan oleh banyak orang, terutama di lingkungan saya bekerja,” ujarnya. Bagi Dokter Don, jabatan adalah wahana untuk mengabdi rakyat, bukan kekuasaan.
Dokter Don adalah figur yang mudah bergaul. Dia juga gemar berorganisasi sejak masa sekolah. Di Golkar, dia pernah menjadi pengurus DPD II Ngada periode 1989-1994.
Dari sisi kelayakan, Dokter Don adalah figur yang bersih yang tak pernah terkena kasus hukum dan pelanggaran moral. Keberhasilannya membina keluarga memperkuat posisinya sebagai public figure, pemimpin masyarakat yang menjadi suri teladan bagi masyarakat. Hans Obor