SDK Kaenbaon TTU, Lestarikan Musik Bambu Tradisional
Kefamenanu, NTT Online - SDK Kaenbaon, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dibawah pimpinan Kepala Sekolah Costantinus Taus, tetap mempertahankan budaya seni musik tradsional dari bambu.
Personil musik yang terdiri dari murid SD berumur 6-12 tahun itu mampu menyedot perhatian penonton disetiap kali manggung. Instrumen musik bambu biasanya memilih lagu bernuasakan kebangsaan dan tradisional Timor tempu dulu.
Uniknya pada personil peniup bas dan tenor itu, alat musiknya lebih tinggi dari pemain, sehingga kerapkali alat musik yang bagaikan tabung bambu itu harus dimiringkan 150 derajat kearah pemain.
Seperti yang dipantau NTT Online, permainan alat itu mengandalkan kekompakan dan napas. Salah mengatur napas bisa kedengaran fals alias kasar. Group musik bambu itu terbagi atas tiga sub berdasarkan nada, yakni bagian peniup seruling 2 anak, Bas 3 anak, tenor 3 anak dan peniup terompet bambu membutuhkan 5 anak. Semua alat musik yang dipertontonkan itu terbuat dari 2 jenis bambu, antara lain bambu betung dan buluh.
Kepala sekolah SDK Kaenbaon, Constantinus Taus yang ditemui di Kefamenanu, Selasa (22/08) kemarin mengakui panggilan untuk mempertahankan musik bambu khas TTU itu sejak tahun 1971 ketika masih duduk dibangku SMP.
Saya tertarik dengan musik bambu ketika saya masih duduk dibangku SMP (1971) lalu. Saat itu saya mendengar salah seorang pastor yang meniup seruling bambu dengan lagu-lagu yang menggugah. Sayapun bertekad akan memperlajarinya dan mengkombinasikan dengan bas, tenor dan terompet bambu. Hasilnya tidak sia-sia, saya sudah menurunkan ilmu ini kepada ratusan murid, ada yang sudah sarjana dan jadi pejabat, kisah Taus.
Taus mengatakan, di panggung gereja Paroki Manamas, waktu mengisi acara ramah tamah di malam Natal 1976, saat saya menjadi guru di SDK Bakitolas. Dan saya selalu melatih murid-murid SD dimana saya bertugas, hingga ditahun 2001 saya pindah ke SDK Kaenbaon dengan jabatan Kepala Sekolah, saya tetap melatih murid-murid SD yang tampil dengan nama sanggar musik seruling tradisional.
Saya akan tetap menurunkan ilmu ini pada anak-anak hingga saya mati. Kendati ada berbagai faktor penghambat seperti minusnya dana pengadaan bambu, pakaian adat, tetapi kami masih memiliki semangat, baik dari murid sendiri, orang tua murid dan saya sebagai pelatih/dirigen.
Saya mengharapkan pemerintah bisa melihat kami sebagai sebuah aset seni dan budaya TTU/NTT yang layak mendapat perhatian, ungkap Taus. Set Besie