Warga Haharu Sumba Timur menjerit kurang air
Waingapu, NTT Online - Saat ini ribuan warga tiga desa, yakni Napu, Wunga dan Mbatapuhu di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mulai menderita kekurangan air bersih, baik untuk minum, masak, mencuci maupun untuk kebutuhan ‘kamar belakang’. Sumber-sumber air yang menjadi sandaran mereka selama ini kering total. Yang tertinggal cuma dua sumber mata air yang hanya menetes 1 cc/detik.
Untuk mengatasi kekurangan air bersih itu, World Vision Indonesia (WVI) sudah bergerak menanganinya. Tetapi sebulan sekali cuma satu tangki untuk mengisi beberapa bak penampung air bantuan pemeringah, PPK dan GTZ dari sekitar puluhan bak. Akibatnya air yang dibagi dengan sistem penjatahan dua jerigen ukuran lima liter perhari/KK itu habis dalam seminggu. Tiga minggu selebihnya, warga terpaksa berebutan mendapatkan air di lereng-lereng bukit yang juga sudah sangat kecil debitnya.
Dari pemantauan Pos Kupang di tiga desa itu, Minggu (28/8), kondisi ini jika tidak segera diatasi akan berdampak pada ancaman penyakit ikutan, terutama anak-anak. Apalagi, kini puluhan anak telah terserang malaria dan ISPA yang juga merupakan penyakit rutin di daerah itu.
Penderitaan anak-anak semakin berat, karena selain kekurangan air bersih, warga setempat juga kekurangan bahan makanan. Tak heran, sejak berumur satu tahun anak-anak sudah mesti mengalas perut dengan mengonsumsi jagung.
Warga setempat menuturkan, selain kekurangan air bersih, mereka juga kekurangan makanan akibat gagal panen dan sebagian gagal tanam. Di Mbatapuhu, sehari-hari warga hanya mengonsumsi jagung. Itu pun stoknya hanya sampai bulan September. Sementara di Wunga dan Napu, stok makanan sudah mulai habis. September ini, warga akan kembali turun ke hutan mencari ubi hutan (iwi) untuk diolah sebagai makanan pengganti.
Sebagaiman disaksikan Pos Kupang, warga di tiga desa itu sudah sangat pasrah terhadap kondisi alam yang kering kerontang. Dua sumber mata air atau mata air ‘wai pakonja’ di lereng bukit yang sering digunakan warga Napu dan Wunga kini kering total. Warga Desa Wunga terpaksa mengambil air sumur yang juga merupakan satu-satunya sumber air untuk warga di Desa Napu itu dengan menempuh jarak sekitar tujuh hingga 10 km.
Kedua desa dengan jumlah warga sekitar 1000 lebih jiwa dan 400 lebih kepala keluarga itu hanya pasrah menunggu bantuan WVI yang sebulan sekali menyuplai air. Sementara bak air di lereng gunung yang dibuat untuk menampung air yang keluar dari mata air itu terlihat sangat kotor, baik kotoran dari dedaunan maupun kotoran hewan milik warga setempat. Terkesan warga setempat belum melihat kualitas air yang layak minum.
Sementara di Mbatapuhu dua sumber mata air, yakni di wai kanjilu dan reti ahu yang juga berada di lereng bukit hanya ada tetesan sekitar 1 cc/detik. Kondisi ini menjadi sangat parah karena 210 kepala keluarga dengan total jiwa 1.026 jiwa mengambil air di dua sumber mata air itu.
Sementara jalan menuju mata air berjarak sekitar tiga-empat km dengan kondisi jalan yang sangat terjal. Warga yang mengambil air di lereng bukit sebagai sumber mata air saling berebutan karena air yang keluar dari rembesan-rembesan tanah itu hanya tetesan. Ternak yang digembala juga ikut berebutan untuk mencicipi air itu. Pos Kupang